Mengenal Teknik Subnetting
Misalkan di sebuah perusahaan terdapat 200 komputer (host). Tanpa
menggunakan subnetting, maka semua komputer (host) tersebut dapat kita
hubungkan kedalam sebuah jaringan tunggal dengan perincian sebagai berikut :
Misal kita gunakan IP Address Private kelas C dengan subnet mask defaultnya
yaitu 255.255.255.0 sehingga perinciannya sebagai berikut :
Network Perusahaan
Alamat Jaringan :
192.168.1.0
Host Pertama : 192.168.1.1
Host Terakhir : 192.168.1.254
Broadcast Address : 192.168.1.255
Misalkan diperusahaan tersebut terdapat 2 divisi yang berbeda sehingga kita
akan memecah network tersebut menjadi 2 buah sub-network, maka dengan teknik
subnetting kita akan menggunakan subnet mask 255.255.255.128 (nilai subnet mask
ini berbeda-beda tergantung berapa subnetwork yang akan kita buat) sehingga
akan menghasilkan 2 buah blok subnet, dengan perincian sebagai berikut :
Network Divisi A
Alamat Jaringan /
Subnet A : 192.168.1.0
Host Pertama : 192.168.1.1
Host Terakhir : 192.168.1.126
Broadcast Address : 192.168.1.127
Network Divisi B
Alamat Jaringan /
Subnet B : 192.168.1.128
Host Pertama : 192.168.1.129
Host Terakhir : 192.168.1.254
Broadcast Address : 192.168.1.255
Dengan demikian, teknik subnetting akan terdapat 2 buah sub-network yang
masing-masing network maksimal terdiri dari 125 host (komputer). Masing-masing
komputer dari subnetwork yang berbeda tidak akan bisa saling berkomunikasi
sehingga meningkatkan security dan mengurangi terjadinya kongesti. Apabila
dikehendaki agar beberapa komputer dari network yang berbeda tersebut dapat
saling berkomunikasi maka kita harus menggunakan Router.
Analogi
:
Ada sebuah jalan bernama Gatot Subroto terdiri dari beberapa rumah bernomor
01-08, dengan rumah nomor 08 adalah rumah Ketua RT yang memiliki tugas
mengumumkan informasi apapun kepada seluruh rumah di wilayah Jl. Gatot
Subroto.
Ketika rumah di wilayah itu makin banyak, tentu
kemungkinan menimbulkan keruwetan dan kemacetan. Karena itulah kemudian
diadakan pengaturan lagi, dibuat gang-gang, rumah yang masuk ke gang diberi
nomor rumah baru, masing-masing gang ada Ketua RT-nya sendiri-sendiri. Sehingga
ini akan memecahkan kemacetan, efiesiensi dan optimalisasi transportasi, serta
setiap gang memiliki previledge sendiri-sendiri dalam mengelola wilayahnya.
Jadilah gambar wilayah baru seperti di bawah:

Konsep seperti inilah sebenarnya konsep subnetting
itu. Disatu sisi ingin mempermudah pengelolaan. Misalnya, suatu kantor ingin
membagi kerja menjadi 3 divisi dengan masing-masing divisi memiliki 15 komputer
(host). Disisi lain juga untuk optimalisasi dan efisiensi kerja jaringan,
karena jalur lalu lintas tidak terpusat di satu network besar, tapi terbagi ke
beberapa ruas-ruas gang.
Yang pertama, analogi Jl. Gatot Subroto dengan
rumah disekitarnya dapat diterapkan untuk jaringan seperti, NETWORK ADDRESS
(nama jalan) dan HOST ADDRESS (nomer rumah). Sedangkan Ketua RT diperankan oleh
BROADCAST ADDRESS (192.168.1.255), yang bertugas mengirimkan message ke semua
host yang ada di network tersebut.
Masih mengikuti analogi jalan diatas, kita terapkan ke subnetting jaringan
seperti gambar di bawah. Gang adalah SUBNET, masing-masing subnet memiliki HOST
ADDRESS dan BROADCAST ADDRESS.
Bagian 2
A. Mengenal Subnet Mask
Subnetmask digunakan untuk membaca bagaimana
kita membagi jalan dan gang, atau membagi network dan hostnya. Address mana
saja yang berfungsi sebagai SUBNET, mana yang HOST dan mana yang BROADCAST.
Semua itu bisa kita ketahui dari Subnet Mask-nya. Jl. Gatot Subroto tanpa gang
yang saya tampilkan di awal bisa dipahami menggunakan SUBNET MASK DEFAULT, atau
dengan kata lain bisa disebut juga bahwa Network tersebut tidak memiliki subnet
(Jalan tanpa Gang). Subnet Mask Default ini untuk masing-masing Class IP Address
adalah sebagai berikut :
Subnetmask diperlukan oleh TCP/IP untuk menentukan apakah suatu jaringan yang
dimaksud adalah termasuk jaringan lokal atau non lokal.
Network ID dan host ID di dalam IP address dibedakan oleh penggunaan subnet
mask. Masing-masing subnet mask merupakan pola nomor 32-bit yang merupakan bit
groups dari semua (1) yang menunjukkan network ID dan semua nol (0) menunjukkan
host ID dari porsi IP address.
|
|
|
Subnetmask default untuk masing-masing
kelas A, B, C dalam biner
|
Jangan bingung membedakan antara subnet mask dengan IP
address. Sebuah subnet mask tidak mewakili sebuah device atau network di
internet. Subnet mask digunakan untuk menandakan bagian mana dari IP address
yang digunakan untuk menentukan network ID. Anda dapat langsung dengan mudah
mengenali subnet mask, karena octet pertama pasti 255, oleh karena itu 255
bukanlah octet yang valid untuk IP address class.
Aturan-aturan dalam Membuat Subnet Mask:
Angka minimal untuk network ID adalah 8 bit. Sehingga, oktet pertama dari
subnet pasti 255.
Angka maksimal untuk network ID adalah 30 bit.
Anda harus menyisakan sedikitnya 2 bit untuk host ID, untuk mengizinkan paling
tidak 2 host. Jika anda menggunakan seluruh 32 bit untuk network ID, maka tidak
akan tersisa untuk host ID. Dan, sudah pasti tidak bisa. Menyisakan 1 bit juga
tidak akan bisa. Hal itu disebabkan karena, sebuah host ID yang semuanya berisi
angka 1 digunakan untuk broadcast address dan semua 0 digunakan untuk mengacu
kepada network itu sendiri. Jadi, jika anda menggunakan 31 bit untuk network ID
dan menyisakan hanya 1 bit untuk host ID, (host ID 1 digunakan untuk broadcast
address dan host ID 0 adalah network itu sendiri) maka tidak akan ada ruang
untuk host sebenarnya. Oleh sebab itu, maximum network ID adalah 30 bit. Karena
network ID selalu disusun oleh deretan angka-angka 1, hanya 9 nilai saja yang
mungkin digunakan di tiap octet subnet mask (termasuk 0). Tabel berikut ini
adalah kemungkinan nilai-nilai yang berasal dari 8 bit.

B. Penghitungan subnetting
Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan
dua cara:
- Cara
Binary yang relatif lambat;
- Cara
Khusus yang lebih cepat.
Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting
akan berkisar di empat masalah yaitu:
1. Jumlah Subnet,
2. Jumlah Host per
Subnet,
3. Blok Subnet,
4. Alamat Host-Broadcast.
Penulisan IP address umumnya adalah dengan
192.168.1.2.
Namun ada kalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24
artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0.
Kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari
penghitungan bahwa 24 bit subnetmask diselubung dengan binari 1. Atau dengan
kata lain, subnet masknya adalah:
11111111.11111111.11111111.00000000
(255.255.255.0).
Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless
Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.
Subnet Mask yang digunakan untuk melakukan subnetting
Pertanyaan berikutnya adalah Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk
melakukan subnetting? Ini terjawab dengan tabel di bawah:
|
Subnet
Mask
|
Nilai CIDR
|
|
255.128.0.0
|
/9
|
|
255.192.0.0
|
/10
|
|
255.224.0.0
|
/11
|
|
255.240.0.0
|
/12
|
|
255.248.0.0
|
/13
|
|
255.252.0.0
|
/14
|
|
255.254.0.0
|
/15
|
|
255.255.0.0
|
/16
|
|
255.255.128.0
|
/17
|
|
255.255.192.0
|
/18
|
|
255.255.224.0
|
/19
|
|
|
Subnet
Mask
|
Nilai
CIDR
|
|
255.255.240.0
|
/20
|
|
255.255.248.0
|
/21
|
|
255.255.252.0
|
/22
|
|
255.255.254.0
|
/23
|
|
255.255.255.0
|
/24
|
|
255.255.255.128
|
/25
|
|
255.255.255.192
|
/26
|
|
255.255.255.224
|
/27
|
|
255.255.255.240
|
/28
|
|
255.255.255.248
|
/29
|
|
255.255.255.252
|
/30
|
|
SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS C
Subnetting seperti apa yang terjadi dengan sebuah NETWORK ADDRESS
192.168.1.0/26?
Analisa: 192.168.1.0 berarti kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti :
11111111.11111111.11111111.11000000
(255.255.255.192).
Penghitungan :
- Jumlah
Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet
mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A).
Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet.
- Jumlah
Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu
banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet
adalah 26 – 2 = 62 host
- Blok
Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet
berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128 + 64 = 192. Jadi subnet
lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
Bagaimana dengan alamat host dan broadcast yang valid? Kita langsung buat
tabelnya. Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan
broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
|
Subnet
|
192.168.1.0
|
192.168.1.64
|
192.168.1.128
|
192.168.1.192
|
|
Host
Pertama
|
192.168.1.1
|
192.168.1.65
|
192.168.1.129
|
192.168.1.193
|
|
Host
Terakhir
|
192.168.1.62
|
192.168.1.126
|
192.168.1.190
|
192.168.1.254
|
|
Broadcast
|
192.168.1.63
|
192.168.1.127
|
192.168.1.191
|
192.168.1.255
|
Kita sudah selesaikan subnetting untuk
IP address Class C. Dan kita bisa melanjutkan lagi untuk subnet mask yang lain,
dengan konsep dan teknik yang sama. Subnet mask yang bisa digunakan untuk
subnetting class C adalah seperti di bawah. Silakan anda coba menghitung
seperti cara diatas untuk subnetmask lainnya.
SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS B
Pertama, subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B
adalah seperti dibawah. Sengaja saya pisahkan jadi dua, blok sebelah kiri dan
kanan karena masing-masing berbeda teknik terutama untuk oktet yang “dimainkan”
berdasarkan blok subnetnya. CIDR /17 sampai /24 caranya sama persis dengan
subnetting Class C, hanya blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet
ketiga, bukan seperti Class C yang “dimainkan” di oktet keempat. Sedangkan CIDR
/25 sampai /30 (kelipatan) blok subnet kita “mainkan” di oktet keempat, tapi
setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0, 1, 2, 3, dst.
|
Subnet
Mask
|
Nilai
CIDR
|
|
255.255.128.0
|
/17
|
|
255.255.192.0
|
/18
|
|
255.255.224.0
|
/19
|
|
255.255.240.0
|
/20
|
|
255.255.248.0
|
/21
|
|
255.255.252.0
|
/22
|
|
255.255.254.0
|
/23
|
|
255.255.255.0
|
/24
|
|
|
Subnet
Mask
|
Nilai
CIDR
|
|
255.255.255.128
|
/25
|
|
255.255.255.192
|
/26
|
|
255.255.255.224
|
/27
|
|
255.255.255.240
|
/28
|
|
255.255.255.248
|
/29
|
|
255.255.255.252
|
/30
|
|
Oke, kita coba dua soal untuk kedua teknik subnetting untuk Class B. Kita mulai
dari yang menggunakan subnetmask dengan CIDR /17 sampai /24. Contoh network
address 172.16.0.0/18
Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti :
11111111.11111111.11000000.00000000
(255.255.192.0).
Penghitungan:
- Jumlah
Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir.
Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet
- Jumlah
Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu
banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet
adalah 214 – 2 = 16.382 host
- Blok
Subnet = 256 – 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan
128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
Alamat host dan broadcast yang valid?
|
Subnet
|
172.16.0.0
|
172.16.64.0
|
172.16.128.0
|
172.16.192.0
|
|
Host
Pertama
|
172.16.0.1
|
172.16.64.1
|
172.16.128.1
|
172.16.192.1
|
|
Host
Terakhir
|
172.16.63.254
|
172.16.127.254
|
172.16.191.254
|
172.16.255.254
|
|
Broadcast
|
172.16.63.255
|
172.16.127.255
|
172.16.191.255
|
172.16..255.255
|
Berikutnya kita coba satu lagi untuk
Class B khususnya untuk yang menggunakan subnetmask CIDR /25 sampai /30. Contoh
network address 172.16.0.0/25.
Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /25 berarti :
11111111.11111111.11111111.10000000 (255.255.255.128)
Penghitungan :
- Jumlah Subnet = 29 = 512 subnet
- Jumlah Host per Subnet = 27 – 2 = 126 host
- Blok Subnet = 256 – 128 = 128. Jadi lengkapnya
adalah (0, 128)
Alamat host dan broadcast yang valid?
|
Subnet
|
172.16.0.0
|
172.16.0.128
|
172.16.1.0
|
…
|
172.16.255.128
|
|
Host
Pertama
|
172.16.0.1
|
172.16.0.129
|
172.16.1.1
|
…
|
172.16.255.129
|
|
Host
Terakhir
|
172.16.0.126
|
172.16.0.254
|
172.16.1.126
|
…
|
172.16.255.254
|
|
Broadcast
|
172.16.0.127
|
172.16.0.255
|
172.16.1.127
|
…
|
172.16.255.255
|
SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS A
Konsepnya sama saja. Perbedaannya adalah di OKTET mana kita mainkan blok
subnet. Kalau Class C di oktet ke 4 (terakhir), kelas B di Oktet 3 dan 4 (2
oktet terakhir), kalau Class A di oktet 2, 3 dan 4 (3 oktet terakhir). Kemudian
subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class A adalah semua subnet
mask dari CIDR /8 sampai /30.
Kita coba latihan untuk network address 10.0.0.0/16.
Analisa: 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan Subnet Mask /16 berarti :
11111111.11111111.00000000.00000000
(255.255.0.0).
Penghitungan:
- Jumlah
Subnet = 28 = 256 subnet
- Jumlah
Host per Subnet = 216 – 2 = 65534 host
- Blok
Subnet = 256 – 255 = 1 Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4, etc.
Alamat host dan broadcast yang valid?
|
Subnet
|
10.0.0.0
|
10.1.0.0
|
…
|
10.254.0.0
|
10.255.0.0
|
|
Host
Pertama
|
10.0.0.1
|
10.1.0.1
|
…
|
10.254.0.1
|
10.255.0.1
|
|
Host
Terakhir
|
10.0.255.254
|
10.1.255.254
|
…
|
10.254.255.254
|
10.255.255.254
|
|
Broadcast
|
10.0.255.255
|
10.1.255.255
|
…
|
10.254.255.255
|
10.255.255.255
|
Semua penghitungan subnet diatas
berasumsikan bahwa IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) dihitung secara
default. Buku versi terbaru Todd Lamle dan juga CCNA setelah 2005 sudah
mengakomodasi masalah IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) ini. CCNA pre-2005
tidak memasukkannya secara default (meskipun di kenyataan kita bisa
mengaktifkannya dengan command ip subnet-zeroes), sehingga mungkin dalam
beberapa buku tentang CCNA serta soal-soal test CNAP, anda masih menemukan
rumus penghitungan Jumlah Subnet = 2x – 2.
Setelah berkenalan dengan IP Address pada subnetting dan belajar dasar-dasarnya
tentang Subnetting Kelas C, Subnetting Kelas B dan Subnetting Kelas A. Tentunya
mudah untuk melakukan penghitungan terhadap IP 192.168.10.1/27, meliputi berapa
subnetnya, berapa hostnya, subnet masknya, dll.
Tapi kalau untuk mengetahui berapa range IP yang terdapat di subnet ke-6??
Latihan Penghitungan IP Address
·
Cara Lama
Kalau memakai cara
yang sudah kita pelajari sebelumnya, kita cari dulu /27 nya, kemudian tentukan
subnetnya berapa setelah itu hostnya berapa, setelah itu baru kita mendapat
rangenya. Seperti ini :
Tentukan terlebih
dahulu /27-nya dimana. Setelah dapat, tentukan subnet sama hostnya.
Baru membuat range
IP-nya :
Setelah semua di
dapat, cari aja subnet ke-6. Maka Range IPnya adalah 192.168.10.192 –
192.168.10.223
·
Cara Cepat
Sangat panjang caranya
akan membingunkan apabila IP tersebut punya ratusan subnet, dan yang ditanya
subnet yang ke ratusan itu juga. Cara cepat menghitung IP address begini
caranya :
Misal IP Address:
192.168.10.1/27. Tentukan IP pada subnet ke-6
Langkah-langkahnya:
1. Tentukan dulu /27
berada pada oktet ke berapa. Setelah semua di dapat, cari subnet ke-6. Maka
Range IPnya adalah 192.168.10.192 – 192.168.10.223
Berarti /27 berada pada oktet ke-4.
2. Binerkan subnet yang mau kita cari. Biner dari subnet
ke-6 adalah 00000110, angka ini diperoleh dari gambar di atas, untuk
mendapatkan 6 kita butuh angka berapa saja?
Jawabannya 4 dan 2, karena 4+2 = 6
karena yang dipakai 4 dan 2, maka oktet pada 4 dan 2 dijadikan “1″ dan
sisanya di “0″ kan. Maka di dapat 00000110
3. Sejajarkan Subnet ke-6
tersebut dengan Network Portion Subnet Mask kemudian AND kan Subnet Mask
diambil dari /27. Karena /27 berada pada oktet keempat, maka yang kita
sejajarkan dengan Subnet ke-6 adalah oktet keempat dari /27. Apa itu network
Portion?
]
maka:
11100000
11000000
Binernya adalah 00000110, karena kita sesuaikan dengan Network Portion
11100000, maka kita mulai dari belakang Network Potion. dan masukkan binernya
“6″ mulai dari belakang, kemudian sisa 0 nya abaikan saja. Jadinya seperti ini:
11100000
11000000
Kemudian pada sisi host portion di “0″ kan. Jadinya seperti ini:
11100000
11000000
————– AND
11000000
4. Setelah di dapat binernya, rubah hasil AND tersebut
kedalam desimal dan itulah IP subnetnya.
Hasil:
11000000 = 192
Maka IP Address Subnetnya adalah 192.168.10.192
5. Cari IP Hostnya, cara mencari IP Host: “1″ kan semua
yang berada pada posisi Host Portion
IP Subnet = 11000000
IP Host = 11011111
Setelah itu desimalkan biner tersebut, maka itu IP Hostnya
11011111 = 223
Maka kita dapat range IP pada Subnet ke-6 adalah 192.168.10.192 – 192.168.1